Here I am, Jakarta again, ibukota negara Republik Indonesia. Kota yang banyak dihujat karena kemacetannya, dicibir karena rutinnya kebanjiran namun tetap menjadi tumpuan hidup banyak warga negara yang sekedar ingin mencari nafkah penghidupan yang tak ditemukannya di kampung.
Jakarta, kota yang kejam, bahkan lebih kejam dari ibu tiri. Begitu biasa ku dengar dari orang-orang yang bilang. Tapi Jakarta memang semrawut, gak jelas tata ruangnya, acak-acakkan.
Banyak orang bilang, “Kalau saja saya bisa mendapatkan penghasilan yang sama dengan di sini (Jakarta) di kampung halaman saya, maka saya pilih untuk tetap di kampung”. Hal ini pula yang menurut gue mendorong ramenya mudik tiap lebaran (?).
Ah, tapi gue cinta Jakarta. Disini kehidupan gue dimulai. Mulai dari gue yang acak-acakkan hidup seenaknya sampai ku menemukan cahaya hidupku, yang mampu memberikanku arah dalam hidupku.
10 hari dan waktu yang sedikit itu pun terasa lama sekali. I do miss you my dear…

I do miss U too, my dear